Saya - 2020

 Halo saya yahya arya putra!!, buat yang belum kenal tuhh hehe..

Oke jadi langsung aja!, kali ini ceritanya bukanlah untuk sesuatu yang mungkin kalian pengen baca atau apa ya!?, (tapi kalau memang mau ya silahkan sihh,hehe). Hal kali ini lebih merujuk kepada suatu kesibukan saya di tahun ini (ciaa sibuk.., sibuk apa kak?!, AHAHA). 

Tunggu.., sebelum saya mulai tuk menuang kisah, izinkan saya untuk memohon maaf untuk siapapun kalian yang membaca sekaligus ucapan terimakasih

"Kapan upload lagi?"

Yap, sekali lagi, blog ini saya buat untuk kegabutan semata (it's just my passion) jadi saya gabakal ngebuat kegabutan ini dengan deadline, dan untuk kalian yang terlanjur suka dengan apa yang saya tuang disini maaf karena tak ada tanggal terbitan yang tetap untuk kalian baca, hehe maaf yaa!!.

Ohh ya, ini bukan klarifikasi loh.. hahaha..

"so, let the story begin"

Ribut dengan hal berbau penentuan nilai, masalah universitas, dan persaingan yang sangat ketat dengan teman-teman kita yang matematikanya lebih jago, wkwk. Mungkin itu yang akan kalian pikir sejak pertama kali membaca postingan ini.

Nyatanya, yang terpikir hanyalah bagaimana caranya bisa lulus dan meninggalkan nama yang baik bagi para guru dan junior saya disekolah. Lalu apa semua ini bukan tentang masa depan?, semua ini masih tentang itu, namun bersabarlah karena masalahnya belum dimulai.

Sejak pertama duduk di bangku kelas 12, pernah terhantui oleh suatu kalimat ini:

"Hmm, jadi masa muda saya sudah akan berakhir, dan kelak akan berujung pada pekerjaan dan hanya seperti itu, Tak ada lagi pembicaraan penuh candaan atau hiruk pikuk kelas yang menyenangkan karena tak pernah berhenti berdamai"

Sungguh kekanak-kanakan?, mungkinn..., tapi menurutku jikalau diriku hanya melihat sekolah dari sisi kesenangannya saja, hanya seperti itu, hehehe. Namun, untuk sudut pandang lain, kupikir ini lah waktuku untuk tidak terlalu melihat hal lain sebagai suatu hal yang harus diniati (contohnya pada platform ini) dan disinilah keseriusan ini dimulai. Yap, untuk tak lagi berkhayal dan mengejar realita, hal ini lebih rumit bila dibandingkan dengan perasaan doi(canda ding).

Tidaklah mudah bagiku untuk bisa langsung fokus tanpa teralih dari kegiatan seorang pelajar di kelas 12 ini. Bahkan masih terdapat beberapa hal tidak penting yang saya lakukan sebagai bentuk dari kejenuhan. Hal-hal ini tidak lain seperti masalah hati dengan perempuan dan kegiatan-kegiatan lain dilluar pelajaran yang masih kulakukan. Dengan selalu membatasi hal-hal tadi, sembari terus menyakinkan dan mempersiapkan diri akan masa depan, sedikit demi sedikit akan suatu hal yang lebih pasti untukku kelak di masa depan.

Teruntuk masalah pelajaran di kelas, menurutku, walaupun untuk seorang sepertiku yang tak begitu ahli dalam bidang akademik seperti matematika (yes u r right, my mathemathic was poor!, but i'm not stupid!!.). Kupikir, paling tidak, aku harus mengikuti pelajarannya, aku harus paham dan setidaknya mengkontribusikan tahun terakhirku dan lebih fokus untuk berada dilingkugan sekolah ini terlebih dahulu ketimbang melakukan banyak kegiatan lain yang sesungguhnya sangat ingin kulakukan. Beruntunglah diriku memiliki orang tua yang benar-benar melindungiku dari hal yang mungkin mereka kira tidaklah penting untuk ku pedulikan di kelas 12 ini.

Hanya itu?, tentu tidak. Hari ke hari semakin banyak konflik yang terjadi, entah pertengkaran antar teman untuk berebut jalur undangan, atau teman-teman yang tak lagi sebaik biasanya. Misalnya tentang mengerjakan tugas yang guru berikan, di kelas 12, beberapa dari kita dikelas, mulai memiliki keyakinan bahwa "kita tak lagi harus bekerja sama". 1 kelas terpecah menjadi beberapa golongan, tanpa mekihat lelaki atau perempuan. Ini adalah persaingan nyata yang harus kuhadapi. Hal ini juga merupakan suatu dorongan untukku, "kalau kelas uda gini, siapa yang mau kamu mintain tolong. Berusahalah dengan apa yang kamu punya". 

Begitulah hari-hari disekolah, untunglah tak semua temanku seperti itu sih. Terkadang, masih ada 1/2 orang yang baik kepadaku dan membantuku. Disitulah aku menghilangkan jenuh, dengan berkhayal bersama beberapa teman tadi, mengukir masa depan pada pandangan kami kepada langit dan berdo'a penuh mesra semoga kelak sukses dapat terjemput.

Terlepas dari semua hal berbau maslah hati dan kesenangan sementara lainnya, hari-hari terakhir di sekolah terasa begitu baik hingga menjelang USP-BKS (Sistem ujian sekolah nasional). 7 hari terasa begitu menegangkan, haha dengan segala kebodohan yang kumiliki, rasanya ingin tertawa saja. Mungkin ini pelajaran bagi kalian yang akan/telah menginjak SMA juga, untuk lebih memanfaatkan semua waktu kalian dengan seimbang di 3 tahun terakhir pendidikan wajib.

Seperti itulah, hingga pandemi datang dan menggagalkan UN (Ujian Nasional) sehingga menjadi Ujian Nyasar (iya nyasar, dapet alamat palsu kali?, makanya ga ada UN, hahaha, canda!).

"Jadi kenapa nih lanjut?"

Sudah jelas kan?, karena udah gabut dan gatau mau ngapain. Ada kok target, doakan saja semuanya lancar ya.., aamiin.

Jadi untuk penutup, hal ini mungkin menginspirasi sedikit dari kalian temen-temen saya terutama yang masih sma / udah kelas 12.

Alright, 'till we meet again!
Bon Travail!

Sincerely, Me!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepadamu, kemarin

Egoisme Diri

Sindir Meow