Postingan

Kepadamu, kemarin

Aku telah sangat sangat mengenalmu Dari Jatuhmu kemarin, banyak hal kupelajari Aku sangat ingat dimana segala tentangmu itu Sesuatu yang sangat dapat membuatku tersenyum bahagia Salahkah aku, dengan mengenalmu Mungkin karena kurasa tak lagi banyak hal yang bisa kuberikan padamu Namun aku tau, rasa sayangku ini bukanlah batasannya Aku tetap akan bahagia, dengan sedikitnya senyummu Aku tetap akan tersenyum, dengan gelpanya tangismu dan Aku akan tetap seperti ini, demi senyummu jua Wahai nona, aku telah banyak belajar Sungguh, dirimulah satu-satunya pedih paling sembuh dirimulah tangis paling bahagia dan senyata rasa sayangku yang tak pernah semu. Kepadamu, Hari ini Kumohon, berjuanlah  Aku tetap ingin mengenalmu Tetap ingin berada disampingmu Namun, aku takkan memberatkanmu  Maafkan aku. Tentang ku, yang kali ini berada di palung kebaian Aku mungkin tak lagi memiliki cahaya yang kusebut perasaan Mungkinkah gelap, ataukah kah aku telah buta aku tak lagi mengerti. Keluhku, yang sa...

Kau tau

Rintik hujan tak pernah bermaksud 'tuk menemani rintih air mata Ataupun senja, dengan ceritanya yang menyurutkan fajar Karena mereka tau, suka atau duka adalah sama Orang-orang datang dan pergi. Bertemu, mengenal, dan saling menyakiti atau juga mengasihi, namun bukan dengan rumah yang sama. Sengaja atau tidak, inilah kehidupan Mereka berkata kau lemah karena tangis itu Namun mereka juga mengatakan, kau lembut atas tangismu Sampai akhirnya, semua kembali padamu Nestapa ada, karena susah bagimu Bahagia pun datang, karena syukur dan senyummu Jadi, menangislah untukmu Sampai puas hati dan pikiranmu Biarkanlah air mata itu berjatuhan Karena ku yakin kau tahu kapan Waktu 'tuk berhenti merintih. - Menara Tangga, (Originally writed on) 17 Juni 2019 Yahya Arya Putra.

Andai pagi perhenti mencuri

Kali ini, aku ingin bercerita tentang suatu malam-malam yang biasa. Dimana diriku mulai bercerita tentang harapku, keluhku, atau hanya sekedar ingin melihatmu tertawa atau bercanda bersama. Jadi malam ini, kebiasaan itu terulang kembali Dimana kau terdiam ditengah perbincangan kita Mungkinkah tersenyum malu? Atau bingung dan berakhir sudah Dialog kita telah berada di ujung kalimat Pembicaraan berakhir dengan mengganti hari Namun yang ingin kupastikan adalah resahku Kepada esok, apakah hal ini akan terulang?    ~ Renungku, Aku mungkin berada pada bab baru kehidupan Pada cerita yang dilukis oleh cahaya Suasana indah yang tak tergambar kata Namun menitih untuk saling mengejar akhir   Aku ingin berteriak Menyudahi permainan waktu yang kita jalani ini Andai ada kata yang dapat menyakinkanmu tanpa mengusik waktu Mungkin itulah kata yang selalu ingin ku ucap   Meskipun aku tau, Aku bukan buku tuk kau baca Bukan pula pelajaran yang harus kau pahami Terlebih, aku hanya aku da...

Egoisme Diri

Di hari dimana waktu terasa begitu cepat, dimana ketidakpedulian merupakan topeng pokok tuk selalu dipakai. Menyembunyikan rangkaian indah dari segelintir perhatian yang takkan lagi dipertontonkan. Bingung-ku menjadi sebuah kepastian yang kuragukan sendiri. Entah bagaimana, aku takkan pernah paham akan sebuah makna dimana kepastian tidak akan memiliki sisi cacat, terkecuali sebuah keraguan yang selalu menimbulkan kebingungan. Seperti, “terucapnya kata indah yang kepastiannya juga merupakan keraguan, dan lagi, kita menciptakan suatu kebingungan.” Bingung kan?, seperti itulah yang dia rasakan saat ini. Dengan hari yang berganti tanpa ada suatu hal baru yang benar-benar menjadi warna baru untuknya. Dia berjalan pada suatu masa di mana egoisme diri adalah hal yang tak dirasa namun menjadi tamparan di akhir pilihannya. Bercerita tentang penggalan kisah kehidupan yang telah dialaminya kepada orang yang ingin dia bantu. Tanpa ingin dibalas, hanya sekedar sebatas senyuman dan kea...

Saya - 2020

 Halo saya yahya arya putra!!, buat yang belum kenal tuhh hehe.. Oke jadi langsung aja!, kali ini ceritanya bukanlah untuk sesuatu yang mungkin kalian pengen baca atau apa ya!?, (tapi kalau memang mau ya silahkan sihh,hehe). Hal kali ini lebih merujuk kepada suatu kesibukan saya di tahun ini (ciaa sibuk.., sibuk apa kak?!, AHAHA).  Tunggu.., sebelum saya mulai tuk menuang kisah, izinkan saya untuk memohon maaf untuk siapapun kalian yang membaca sekaligus ucapan terimakasih "Kapan upload lagi?" Yap, sekali lagi, blog ini saya buat untuk kegabutan semata ( it's just my passion) jadi saya gabakal ngebuat kegabutan ini dengan deadline , dan untuk kalian yang terlanjur suka dengan apa yang saya tuang disini maaf karena tak ada tanggal terbitan yang tetap untuk kalian baca, hehe maaf yaa!!. Ohh ya, ini bukan klarifikasi loh.. hahaha.. "so, let the story begin" Ribut dengan hal berbau penentuan nilai, masalah universitas, dan persaingan yang sangat ketat dengan teman...

Sindir Meow

Cerita kali ini dimulai diluar rumah, dengan nyamuk sebagai teman dan para kucing yang berlalu-lalang.  Memang!, kali ini bukan pertama kalinya diriku bertemu seekor kucing. Namun, untuk kali ini, biarlah diri ini bertanya. "Sebebas itukah dirimu kucing?" Maksudku, ia hanya seekor hewan tanpa otak sebaik manusia. Namun hei!, tunggu dulu. "Otak sebaik manusia" Tidak, tidak!. Bukan maksud kata tuk menghunjam. Namun, masih banyak orangtua yang tak lagi peduli dengan anak-anaknya ketika mereka lahir?.  Jangan bandingkan dengan seekor kucing. Bahkan anak yang entah siapa bapaknya. Ia akan menjaganya dengan tulus. "Bukan begitu?". Ohh, atau.. Memperoleh makanan, namun, membuangnya sebelum habis sebagai sampah. Sedang kucing yang malang ini, bisa bertahan dari makanan bekasmu itu!. Mereka pun tak mengeluh, tidak seperti kau!. Yang kerjanya hanya makan, tidur lalu pergi kembali tuk bermain. Mungkin.., kalau para kucing itu bisa sambat  mereka 'kan mengeong tia...

Mendung ke Hujan

Cukup tuk mendung yang tak berarti hujan  Tetaplah seperti itu, mendungmu itu menyejukkan Gelap bayang awan menutup sinar mentari di siang kering Sepoi angin menerpa kulit, perasaan bebas akan sebuah rasa nyaman Sampai kelak hujan, ku bersyukur atas mendung yang telah datang terlebih dahulu Dengan begini takkan ada penantian pada turunnya hujan Kuyakin kelak waktunya, hujan akan tiba tuk turun  Menunggu setiap rintik air yang kelak membasahi kulit Dengan sejuk dan dingin yang terikat bersama angin Ketersadaran akan mendung pada saat ini Kelak, akan sebanding dengan menunggu turunnya hujan Sehingga, mendung telah sangat cukup untuk sekarang Takkan ada kata tergesa tuk diriku menyapa hujan Nyaman pada mendung rindang ini Hingga waktu menampih hujan tuk turun tanpa terkata kata "lama" ------------------ Wahh panas!!, Bener deh, sidoarjo jarang turun hujan. :3 Walaupun seperti itu, mendung sudah sangat cukup dan saya sudah seneng banget!. Sampai nanti hujannya turun, makasih bua...

Postingan populer dari blog ini

Kepadamu, kemarin

Egoisme Diri

Sindir Meow