Egoisme Diri

Di hari dimana waktu terasa begitu cepat, dimana ketidakpedulian merupakan topeng pokok tuk selalu dipakai. Menyembunyikan rangkaian indah dari segelintir perhatian yang takkan lagi dipertontonkan.

Bingung-ku menjadi sebuah kepastian yang kuragukan sendiri.

Entah bagaimana, aku takkan pernah paham akan sebuah makna dimana kepastian tidak akan memiliki sisi cacat, terkecuali sebuah keraguan yang selalu menimbulkan kebingungan.

Seperti,

“terucapnya kata indah yang kepastiannya juga merupakan keraguan, dan lagi, kita menciptakan suatu kebingungan.”

Bingung kan?, seperti itulah yang dia rasakan saat ini.

Dengan hari yang berganti tanpa ada suatu hal baru yang benar-benar menjadi warna baru untuknya. Dia berjalan pada suatu masa di mana egoisme diri adalah hal yang tak dirasa namun menjadi tamparan di akhir pilihannya.

Bercerita tentang penggalan kisah kehidupan yang telah dialaminya kepada orang yang ingin dia bantu. Tanpa ingin dibalas, hanya sekedar sebatas senyuman dan keahagian adalah bayaran yang indah untuknya.

Namun, kali ini rasa hampa menyapa. Apakah keegoisan ini harus terus dilanjutkan?. Menjadi sok tidak peduli, namun menjadi sangat baik dibelakang orang yang tak memperhatikannya. Dia pun bertanya,

“Haruskah selamanya seperti ini?, tenggelam dalam keraguan yang tak pasti. Sedangkan, segala ketidakpedulian ini hanyalah topeng!!. Aku benci pada kehidupan ini!!. Tanpa topeng ini mungkin akan terlihat bagaimana diri ini sesungguhnya!.”

Pertanyaan-nya menggambarkan jelas suatu permainan akan dirinya, kelam masalalu dan segala yang mengukir diri dan sifat nya hingga saling berbenturan seperti itu.

Namun, Sekali lagi. Bukan itu masalahnya!

Dia hanyalah seseorang yang sedang bingung akan apa yang sebenarnya ia rasakan?. Mungkin keegoisan itu sudah pasti suatu hal yang buruk. Namun aku tetap saja ragu dan kembali bingung.

 

“Tiadakah keegoisan untuk suatu kebaikan?”

 

Sadarkah kau akan sesuatu ?, Dia selalu merasa sendiri. Bingung akan segala keegoisan yang dia cipatakan dan dia hancurkan sendiri. Perasaannya telah berada di ujung tebing. Takut terjatuh namun tak ada siapapun tuk menariknya kembali ke belekang.

 

Sebuah riwayat pada bab kehidupan “Egoisme Diri”.

 

“Karena aku sadar, bahwa aku selalu merasa sendiri, aku tetap egois tuk mengatakan bahwa diriku ini selalu sendirian. Padahal kalian selalu berada dibelakangku bukan?. Terimkasih (senyum dariku)”

 

Seperti kepastian ini yang akan menuntunku dan keraguan yang-kan menjatuhkanku. Seterusnya, akan tetap seperti ini. Hingga seseorang kembali merubahku.

 

“Tertulis bingung, pasti dan secuil keraguan.”

 

Terimakasih,

Yahya Arya Putra
Jangan tanyakan siapa, dan ku takkan pernah menjawabnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepadamu, kemarin

Sindir Meow